Maret 14, 2009

O'zawa District

Burhan Sholihin
Semestinya malam itu adalah malam yang nikmat. Garis mati untuk menyetor naskah untuk koranku sudah lewat. Pekerjaan sudah rampung. Saat mengistirahatkan pikiranku yang penat dengan melayang-layang bersama irama sendu John Denver, tiba-tiba sebuah “sandek” alias pesan pendek (SMS) menginterupsi rehatku. “Bagaimana nih cara agar anakku tak bisa mengakses situs porno.”

Blar! Pikiranku yang sudah masuk ke gigi nol bangkit lagi tancap gas. Aku tahu, anaknya baru kelas 3 sekolah dasar. Ia dibesarkan oleh ibu alim serta ayah yang baik hati, sopan, tidak sombong, dan rajin menabung. “Kok bisa, ya?” pikirku.

Segera saja meluncur beberapa saranku untuknya. Saran itu antara lain menganjurkan dia memasang peranti pengaman situs porno, seperti CyberPatrol atau NetNanny. Peranti ini tak 100 persen bisa melindungi, tapi lumayanlah, daripada tak ada proteksi sama sekali. Saranku yang lain adalah meminta dia menempatkan komputer di ruang keluarga, bukan di kamar agar pembantu atau anggota keluarga lain bisa mengontrol.

Saya sadar bahwa anjuran itu adalah saran yang minimalis. Perang melawan “sektor biru” ini luar biasa susah. Setiap hari situs-situs atau blog-blog “biru” baru bermunculan. Mereka bahkan menjadi kampanye yang ampuh untuk klip-klip video porno. Sebuah gerakan nirlaba di Yogyakarta bernama Jangan Bugil di Depan Kamera pernah mencatat dalam setahun, ada 500-an video porno made in Indonesia. Para aktor dan artis utamanya mayoritas remaja. Ada juga yang pemainnya bupati atau wakil rakyat. Bayangkan, 500 video setahun! Itu berarti, dalam sehari, muncul 1-2 video baru.

Jadi jangan heran bila pemerintah geram. Lalu mereka berencana menerapkan aturan pembatasan situs porno. Yang coba-coba bikin situs porno bisa didenda Rp 1 miliar. Pemerintah menginginkan akses internet yang “sehat”.

Penggemar situs biru di negeri ini memang berjibun jumlahnya. Lihat statistik pengakses Internet yang direkam situs Alexa.com. Coba tebak, situs Indonesia apa yang paling banyak di akses? Detik.com? Anda salah besar! Situs nomor satu adalah adalah Kask*s. (maaf, namanya sengaja disamarkan). Ini adalah forum diskusi yang membicarakan soal apa saja, dari ikan mas koki, mobil, masakan, hingga tentu saja yang paling panas soal esek-esek.

Situs inilah yang ada di peringkat kelima–dalam soal jumlah pengunjung–setelah Yahoo.com, Friendster.com, Google.com, dan Google.co.id. Detik.com pun kalah ngetop, dia cuma ada di peringkat ke-13.

Di bawah situs ini masih berderet beberapa situs biru asli Indonesia. Situs-situs itu juga jauh lebih populer ketimbang situs Kompas atau Tempointeraktif.

Memprihatinkan? Entahlah. Begitulah potret negeri ini. Lihatlah pula data Google yang dimuat di blog Ndoro Kakung tentang pencarian Maria Ozawa alias Miyabi, bintang porno berdarah Jepang-Prancis-Kanada yang kenal seks sejak usia 13 tahun. Ternyata, yang paling banyak mencari bintang panas itu di Google berasal dari Yogyakarta, disusul Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Jumlah mereka mengalahkan akses dari Makati, Manila (keduanya di Kota Filipina), Hanoi (Vietnam), Kuala Lumpur (Malaysia), dan Singapura.

Itulah sebabnya, rancangan pemblokiran situs porno ini, selain disambung kor setuju dari ibu-ibu yang merindukan Internet “sehat”, disambut dengan sumpah serapah para pecandu Internet.

“Benar deh, undang-undang itu kesambet. Semprul tenan. Goodbye, Miyabi. Goodbye, Maria Ozawa,” blog Bocor mengomentari larangan tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Template Design By:
SkinCorner